Pembuatan Pupuk Organik Granul dari Limbah Organik

Tangani Limbah dengan Benarpupuk organik granul

Kawasan yang potensial menghasilkan limbah dalam jumlah yang besar perlu mendapatkan perhatian khusus. Pasalnya, limbah yang

tidak ditangani dengan baik akan mencemari lingkungan dan merugikan masyarakat sekitar. Berikut beberapa permasalahan yang sering muncul jika limbah tidak ditangani dengan baik:

1.      Lingkungan menjadi kumuh dan kotor sehingga menjadi tempat berkembang biak berbagai jenis penyakit menular yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Biasanya, penyakit tersebut ditularkan oleh lalat, tikus, anjing, dan kucing.

2.      Limbah yang membusuk akan menghasilkan gas yang berbau tidak sedap. Selain itu, limbah juga dapat menghasilkan gas rumah kaca yang dapat menyebabkan global warming. Sementara itu, limbah cair atau lindinya juga dapat menyebabkan pencemaran air permukaan dan air tanah dalam.

3.      Sulitnya mencari lahan baru untuk tempat pembuangan limbah dalam jumlah besar di kawasan yang pdat penduduk. Pasalnya tempat pembuangan limbah harus, luas, tertutup, serta jauh dari lokal industri dan permukiman.

Konsep 3R

Mengolah limbah menjadi “emas” dapat dilakukan dengan strategi pengelolaan limbah terpadu menuju zero waste. Strategi tersebut dilakukan dengan pendekatan konsep 3R (reduce, reuse, dan recycle).

1.      Reduce artinya usaha untuk mengurangi produksi limbah dengan cara melakukan kegiatan yang dirancang sedemikian rupa melalui mekanisme produksi bersih (clean production) sehingga limbah yang dihasilkan dari kegiatan tersebut seminimal mungkin.

2.      Reuse artinya usaha untuk menggunakan kembali barang-barang yang telah dipakai sehingga tidak langsung dibuang.

Recycle artinya usaha mendaur ulang limbah menjadi produk yang berguna.

Kebijakan Pemerintah Mengatasi Degradasi Sumber Daya Lahan

Menyadari kondisi lahan pertanian yang semakin meningkat, maka pemerintah melalui Kementerian Pertanian, mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendorong penggunaan pupuk organik.

1.      Program Go Organik 2010 untuk tanaman pangan yang mensyaratkan penggunaan bahan organik dalam proses penanaman.

2.      Sosialisasi penggunaan pupuk organik.

3.      Bantuan langsung pupuk organik dalam bentuk pupuk organik granul (POG) dan pupuk organik cair (POC).

4.      Bantuan alat pembuat pupuk organik dan rumah percontohan pembuatan pupuk organik.

5.      Subsidi dan bantuan langsung pupuk organik dalam bentuk POG.

Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan teknik penanganan limbah yang benar. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan limbah untuk pembuatan pupuk organik berbentuk granul (butiran).

Kualitas pupuk organik granul dipengaruhi oleh bahan baku yang digunakan. Kompos sebagai bahan baku utama pembuatan pupuk organik granul harus memenuhi kriteria kompos matang agar kualitasnya terjamin. Selain kompos, bahan pengisi (filler) seperti dolomite dan zeolite biasanya ditambahkan untuk mendapatkan butiran granul yang kompak. Bahan perekat berupa molase juga dibutuhkan untuk merekatkan fraksi kompos sehingga terbentuk butiran granul yang tidak mudah pecah.

Kompos, Bahan Baku Utama Pupuk Organik Granul

Kompos merupakan bahan baku utama pembuatan pupuk organik granul. Kualitas pupuk granul yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh kualitas kompos yang digunakan. Karena itu, sebelum membuat pupuk organik granul, perlu mengetahui proses pembuatan kompos yang baik agar mutu pupuk organik granul yang dihasilkan tetap terjaga.

Umumnya, kompos yang digunakan sebagai bahan baku pupuk organik granul berupa kompos matang hasil dari proses pengomposan selama 4-7 minggu. Kompos matang ini biasaya terlihat seperti humus dengan tekstur yang stabil, remah, tidak berbau busuk, dan berwarna gelap.

Pengomposan

Pengomposan merupakan penguraian materi organik seperti sampah, dedaunan, rumput, sisa makanan, kotoran ternak, dan serbuk gergaji. Proses penguraian menjadi bentuk yag lebih sederhana ini dilakukan secara biologis dengan bantuan mikroorganisme seperti bakteri, fungi, dan aktinomicetes. Proses ini dilakukan dalam kondis aerobik atau memerlukan oksigen yang terkendali.

Perbandingan Pengomposan secara Arobik dan Anaerobik

Proses pengomposan dilakukan secara aerobik bukan anaerobik. Para pakar kompos membatasi definisi pengomposan sebagai proses aerobik semenjak Sir Albert Howard di India, pada tahun 1930-an melakukan penelitian yang membandingkan pembuatan kompos tanpa udara dan dengan udara. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa cara pengomposan dengan tambahan udara (aerobik) memiliki berbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh pengomposan tanpa udara (anaerobik).berikut beberapa kelebihan proses pengomposan secara aerobik :

1.      Prosesnya berlangsung lebih cepat sekitar 4-6 minggu, sedangkan anaerobik dapat lebih dari 24 minggu.

2.      Proses aerobik tidak menghasilkan gas yang berbau, sedangkan anaerobik menghasilkan gas yang berbau.

3.      Proses aerobik dapat memberikan efek seperti pasteurisasi, sedangkan anaerobik tidak (tetap dingin, tidak terjadi peningkatan suhu).

4.      Proses aerobik secara alamiah dapat menguraikan material limbah yang mengandung serat selulosa , sedangkan anaerobik tidak.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengomposan

Pengomposan merupakan proses biologis yang kecepatan prosesnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan yang mendukungnya. Jika kondisi lingkungan semakin mendekati kondisi optimal yang dibutuhkan oleh mikroba, maka aktivtas mikroba semakin tinggi sehingga pengomposan berjalan lebih cepat. Berikut faktor yang mempengaruhi kecepatan proses pengomposan :

1.      Kelembapan (Kadar Air)

Material yang dikomposkan harus mengandung air yang cukup untuk mendukung kehidupan mikroorganisme yang hidup di dalamnya. Apabila kelembapannya terlalu rendah (12-40%), kehidupan mikroorganisme menjadi terganggu karena mikroorganisme sangat membutuhkan air sebagai habitatnya. Jika hal itu terjadi, maka pengomposan akan berjalan sangat lambat.

Diagram Alir Proses Pengomposan

LIMBAH ORGANIK

KOMPOS

Setelah semua tahapan pembuatan kompos selesai dilakukan, maka kompos ini lah yang selanjutnya akan dimanfaatkan menjadi pupuk granul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s